Selasa, 18 Agustus 2026 Kontingen Kecamatan Jatinom Mengikuti Karnaval Budaya tingkat Kabupaten Klaten

Selasa, 18 Agustus 2026 Kontingen Kecamatan Jatinom Mengikuti Karnaval Budaya tingkat Kabupaten Klaten

NARASI KARNAVAL BUDAYA
KONTINGEN JATINOM

“JATINOM: JEJAK JATI ENOM, DAKWAH KYAI AGENG GRIBIG, DAN TRADISI APEM YAA QOWIYYU”

1. PEMBUKA – PATaka KONTINGEN JATINOM

JATINOM…!

Sebuah nama yang menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah.

Jatinom dipercaya berasal dari kata “Jati Enom”—pohon jati yang masih muda. Dalam kisah tutur masyarakat, kawasan ini dahulu merupakan wilayah yang masih berupa hutan jati yang lebat, tempat kehidupan perlahan tumbuh, berkembang, dan kemudian menjadi permukiman yang makmur. Dari tanah yang subur inilah, masyarakat awal Jatinom membangun kehidupan dengan semangat gotong royong, membuka lahan, dan menata peradaban kecil yang kelak menjadi bagian penting dari sejarah wilayah Klaten.

Seiring perjalanan waktu, Jatinom tidak hanya dikenal sebagai wilayah agraris, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya nilai-nilai spiritual. Pada masa perkembangan Islam di tanah Jawa, wilayah ini menjadi salah satu titik penting penyebaran dakwah yang dibawa oleh para ulama, termasuk Kyai Ageng Gribig, seorang tokoh yang kelak mewarnai sejarah religius Jatinom.

Dari sebuah kawasan yang tumbuh di antara rimbunnya jati, Jatinom berkembang menjadi sebuah wilayah yang bukan hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga kaya akan sejarah, tradisi, dan kehidupan religius masyarakatnya.

Hari ini, sejarah itu tidak hanya kita kenang.

Sejarah kita hadirkan kembali dalam sebuah karnaval budaya.

Inilah:

KONTINGEN JATINOM – JATINOM!

Membawa semangat:

“Nguri-uri sejarah, nguri-uri budaya, nguri-uri nilai luhur Jatinom.”

2. PEMBAWA APEM

Dari Jatinom, lahirlah sebuah tradisi yang kemudian dikenal luas hingga sekarang:

YAA QOWIYYU…!

Tradisi sebar apem yang setiap tahun mengundang masyarakat dari berbagai penjuru.

Dalam kisah sejarahnya, tradisi ini tidak dapat dilepaskan dari perjalanan spiritual Kyai Ageng Gribig. Dikisahkan bahwa beliau adalah seorang ulama yang menempuh perjalanan jauh dalam menuntut ilmu dan berdakwah, hingga sampai ke tanah suci. Sepulang dari perjalanan spiritual tersebut, beliau membawa oleh-oleh berupa apem yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol syukur, doa, dan permohonan ampun kepada Allah SWT.

Sejak saat itu, apem tidak sekadar menjadi makanan.

Ia menjadi simbol permohonan maaf, pengampunan, keberkahan, dan kepedulian kepada sesama.

Dalam tradisi masyarakat Jatinom, apem menjadi bagian dari pesan moral:

bahwa kehidupan harus dibangun dengan saling memaafkan, berbagi, dan mempererat persaudaraan.

Dari tangan ke tangan…

Dari satu orang kepada orang lainnya…

Apem disebarkan.

Dan bersama apem itu, ikut tersebar sebuah pesan:

“Yaa Qowiyyu… Allah Yang Maha Kuat, kuatkanlah kami dalam kebaikan.”

3. PEMBAWA KENDI PATIRTAN

Air yang dibawa bukan sekadar air.

Ia menjadi simbol patirtan—sumber kehidupan.

Air mengajarkan kepada kita tentang ketulusan:

mengalir, memberi manfaat, dan tidak memilih kepada siapa ia memberikan kehidupan.

Demikian pula ajaran yang diwariskan para leluhur Jatinom:

ilmu harus mengalir, kebaikan harus dibagikan, dan keberkahan harus dirasakan bersama.

4. BERGADA PRAJURIT SULTAN AGUNG

Inilah barisan prajurit Mataram.

Mengingatkan kita pada perjalanan sejarah Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja besar Mataram yang pernah membawa Mataram menuju puncak kejayaannya.

Dalam kisah tradisi Jatinom, nama Sultan Agung memiliki hubungan erat dengan perjalanan Kyai Ageng Gribig. Pada masa itu, Mataram menjadi pusat kekuasaan sekaligus pusat perkembangan Islam di Jawa. Kyai Ageng Gribig disebut sebagai salah satu ulama yang memiliki kedekatan dengan lingkungan Mataram, sekaligus menjadi bagian dari jaringan dakwah yang berkembang pada masa tersebut.

Dari lingkungan kekuasaan Mataram menuju kehidupan masyarakat…

agama dan budaya bertemu.

5. BERGADA WANITA

Di balik perjalanan sejarah, selalu ada peran perempuan.

Perempuan Jatinom bukan sekadar pelengkap.

Mereka adalah penjaga keluarga, penjaga tradisi, penjaga nilai, sekaligus pewaris kebudayaan.

Dari generasi ke generasi…

nilai-nilai luhur ditanamkan.

Dari ibu kepada anak.

Dari keluarga kepada masyarakat.

Karena budaya akan tetap hidup ketika generasi mudanya mau mengenal dan menjaganya.

6. KERETA – SULTAN AGUNG

Dan kini…

Hadir sosok Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Raja besar Mataram.

Sosok yang dalam kisah sejarah dan tradisi Jatinom dikaitkan dengan perjalanan Kyai Ageng Gribig.

Kyai Ageng Gribig dikenal sebagai seorang ulama yang berasal dari lingkungan bangsawan dan kemudian memilih jalan spiritual sebagai pendakwah. Dalam perjalanan hidupnya, beliau menempuh rihlah keilmuan, termasuk ke tanah suci, dan kembali dengan membawa semangat dakwah yang kuat. Sepulangnya ke tanah Jawa, beliau tidak hanya mengajarkan agama melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan, kesederhanaan, dan kedekatan dengan masyarakat.

Dari perjalanan itulah, kisah dakwahnya kemudian berakar kuat di Jatinom.

Dari pusat kekuasaan menuju masyarakat.

Dari kehidupan keraton menuju kehidupan rakyat.

Dan dari situlah, agama tidak hanya diajarkan melalui kata-kata…

tetapi melalui keteladanan dan kebersamaan.

7. BARISAN LURAH – PARA DEMANG

Inilah para lurah.

Mereka menggambarkan para pemimpin wilayah dan demang pada masa lalu.

Pemimpin bukan hanya mereka yang berada di depan.

Pemimpin adalah mereka yang mengayomi, melayani, dan menjaga masyarakatnya.

Dari masa ke masa, kepemimpinan berubah.

Tetapi nilai dasarnya tetap sama:

memimpin untuk masyarakat.

8. GUNUNGAN APEM

Dan kini hadir Gunungan Apem.

Inilah simbol kemakmuran sekaligus semangat berbagi masyarakat Jatinom.

Apem yang dahulu hadir sebagai bagian dari perjalanan dakwah Kyai Ageng Gribig kini berkembang menjadi tradisi besar yang mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Gunungan ini menggambarkan satu pesan:

“Semakin banyak yang kita bagi, semakin luas keberkahan yang kita rasakan.”

Apem disebar.

Bukan untuk diperebutkan semata.

Tetapi untuk mengingatkan:

rezeki akan memiliki makna ketika dibagikan.

9. PEMBAWA TUMBAK

Dua tumbak mengawal perjalanan sejarah.

Tumbak adalah simbol keteguhan, keberanian, dan penjagaan.

Namun keberanian yang sesungguhnya bukanlah keberanian untuk melawan sesama.

Melainkan keberanian untuk:

menjaga kebenaran, menjaga persatuan, menjaga tradisi, dan menjaga amanah.

10. BARISAN SANTRI

Inilah generasi penerus.

Para santri.

Mereka menggambarkan perjalanan dakwah Kyai Ageng Gribig yang meninggalkan jejak kuat dalam kehidupan religius masyarakat Jatinom.

Dari masa awal penyebaran Islam di wilayah ini, ajaran yang dibawa para ulama berkembang melalui pendekatan yang damai, penuh kebijaksanaan, dan menyatu dengan budaya lokal. Kyai Ageng Gribig menjadi salah satu simbol penting dalam proses tersebut, di mana dakwah tidak dilakukan dengan paksaan, melainkan dengan keteladanan dan penguatan nilai-nilai akhlak.

Dari masjid…

dari pengajian…

dari pesantren…

dari rumah-rumah masyarakat…

ajaran agama terus tumbuh.

Dan hingga hari ini, Jatinom dikenal sebagai salah satu kawasan yang kuat dengan kehidupan keislamannya.

**Ilmu diwariskan.

Akhlak diteladankan.Dakwah diteruskan.**

11. REPLIKA MASJID ALIT

Di sinilah simbol perjalanan dakwah itu berdiri:

Masjid Alit.

Masjid bukan hanya tempat mendirikan shalat.

Masjid adalah pusat kehidupan masyarakat.

Tempat belajar.

Tempat berkumpul.

Tempat membangun persaudaraan.

Dan menjadi salah satu simbol penting perjalanan Islam di Jatinom.

Dari tempat sederhana…

tumbuh masyarakat yang besar.

12. REPLIKA TUNGGAK JATI

Dan inilah tunggak jati.

Simbol yang mengingatkan kembali pada akar nama Jatinom:

JATI ENOM.

Dalam sejarah lisan masyarakat, jati muda melambangkan awal mula kehidupan wilayah ini—sebuah kawasan yang terus tumbuh dari hutan menjadi pemukiman, dari pemukiman menjadi pusat kegiatan masyarakat, hingga akhirnya menjadi wilayah yang dikenal karena tradisi dan spiritualitasnya.

Demikian pula Jatinom.

Berakar dari sejarah, tumbuh bersama zaman, tetapi tidak kehilangan jati diri.

13. BARISAN KERAKYATAN

Inilah wajah Jatinom hari ini.

Rakyat.

Petani.

Pedagang.

Pekerja.

Pelajar.

Perempuan.

Pemuda.

Dan seluruh masyarakat.

Mereka adalah pemilik sesungguhnya dari kebudayaan.

Karena sejarah bukan hanya milik raja.

Bukan hanya milik tokoh.

Sejarah juga milik rakyat yang menjaga dan meneruskannya.

Dan Jatinom terus tumbuh.

Tradisi tetap hidup.

Masyarakat terus bergerak.

Namun akar sejarah tetap dijaga.

14. HADRAH – PENUTUP

Dan perjalanan karnaval ini ditutup dengan lantunan hadrah.

Suara yang mengingatkan kita pada satu hal:

Jatinom bukan sekadar sebuah tempat.

Jatinom adalah perjalanan.

Perjalanan dari Jati Enom…

menjadi sebuah wilayah yang tumbuh.

Perjalanan dakwah Kyai Ageng Gribig…

yang meninggalkan warisan nilai keagamaan dan tradisi yang terus hidup hingga kini.

Perjalanan tradisi Yaa Qowiyyu dan sebar apem…

yang mengajarkan berbagi dan memaafkan.

Dan perjalanan masyarakat…

yang terus menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman.

Maka mari kita lantunkan bersama:

YAA QOWIYYU… YAA QOWIYYU… YAA QOWIYYU…!

Semoga Jatinom senantiasa diberi kekuatan.

Kuat masyarakatnya.

Kuat persaudaraannya.

Kuat budayanya.

Kuat nilai agamanya.

Dan kuat generasi mudanya.

JATINOM…!

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0